Tutorial Photoshop: Membuat Kolase Simpel




Hai! Zaman sekarang aplikasi editing foto sih udah banyak yah. Kita pun mudah buat menggunakannya. Nggak perlu sekolah desain kalau cuma buat banner atau kolase mah.

Tapi, menurut saya, keterampilan menggunakan Photoshop atau program desain grafis lainnya ini tetap penting ya, apalagi kalau kamu memang mau desain sendiri dengan lebih leluasa, yang bisa "kamu banget".

Nah, memenuhi permintaan seorang penggemar teman, saya akhirnya nulis tutorial bikin kolase pakai Photoshop ini.

Sebenernya saya juga bingung nulis ini, karena semacam ngajarin desain gitu, bikin kolase beginian mah tergantung ama imajinasi kita masing-masing mau dibikin gimana kan?

Tapi yaa sudahlah.
Mau tak bikin yang model beginian?




Mau ya? Yang begini dulu deh ya.
Ntar kalau ada yang lebih bagus, saya nulis tutorialnya lagi deh.
Mulai aja yuk!

Tutorial Photoshop: Membuat Kolase Sederhana


1. Buka file yang akan dijadikan foto background.




2. Buat group layer, biar gampang nanti kalau mau edit-edit. Caranya: di panel layers sebelah kanan, klik simbol folder nya >> “Create a new group”




3. Bikin rectangle putih di dalem group tadi. Besarnya sih dikira-kira aja yah.




4. Bikin layer baru masih di dalam group 1 tadi. Layer > New > Layer




5. Tambahkan rectangle warna hitam di atas rectangle putih tadi.




6. Buka file foto yang mau ditaruh di dalam frame tadi. Terus, bisa copy-paste atau langsung drag aja ke file kolase.





7. Kalau file fotonya udah “pindah” trus klik menu Layer > Create Clipping Mask. Sebelumnya pastikan dulu, layer foto ada di atas layer rectangle item yah? Digeser aja dengan drag kalau belum bener posisinya.




8. Drag foto ke posisi yang diinginkan, bisa di re-scale juga. Silakan, mau digimanain. Di-filter juga bisa.




9. Nah, terus, kalau mau ngedit si groupnya (mau di-scale, rotate apa di-drop shadows) di-close dulu groupnya di panel layers. Dengan ngeklik simbol segitiga yang ada di samping simbol mata.




10. Nah, bisa ditambahin image group yang kedua nih. Caranya ya sama kayak pas bikin group 1 tadi :D jangan lupa add new layer dulu yah.
Kalau enggak, group ke2 itu akan  jadi anak-group group 1 *belibet*




11. Abis itu bisa dihias-hias deh. Tambahin tulisan misalnya :D



Udah jadiii!
Simpel kan, tutorial photoshop kolasenya?

Selamat mencoba!

Ini Dia 10 Font Paling Populer di Kalangan Desainer Grafis - Kamu Sering Pakai yang Mana?



Karakter sebuah artwork desain grafis--terutama yang berupa komunikasi visual--tak akan lepas dari font. Karena, meski picture talks, tapi informasi utama biasanya tersampaikan melalui tulisan.

Font sendiri bisa banget menentukan karakter sebuah desain grafis. Jadi, selain berfungsi untuk menyampaikan pesan, font juga bisa menjadi elemen desain tersendiri.


Di dunia ini ada buanyak sekali font. Mungkin jutaan ya. Tapi, dari semua font tersebut, ternyata hanya 10 saja yang paling banyak digunakan, terutama oleh para desainer grafis.

Kenapa 10 font ini? Karena bentuknya sederhana, sehingga kalau dipakai dalam penyusunan kalimat dan kata dalam sebuah artwork desain grafis, biasanya juga mudah terbaca meski dari kejauhan sekalipun.

Font apa saja sih yang paling populer ini? Ini dia.


10 font paling populer dan paling banyak digunakan oleh para desainer grafis, dan sedikit sejarah mengenainya


1. Helvetica (Max Miedinger, 1957)





Ya, Helvetica barangkali adalah font paling populer dan paling banyak dipergunakan di seluruh dunia. Helvetica ini simpel dan desainnya modern, tapi sekaligus everlasting.


2. Baskerville (John Baskerville, 1757)



John Baskerville mendesain typeface ini karena dia kurang puas dengan font Caslon yang saat itu sedang ngehits. Baskerville dikatakan sebagai font gaya transisi, antara Caslon yang klasik dengan Bodoni yang modern.

Dalam perkembangannya, font Baskerville didesain ulang supaya tampak lebih elegan hingga melahirkan font New Baskerville.


3. Times (Stanley Morison, 1931)




Manajer harian The Times, William Lints-Smith, mendapatkan kritik dari Stanley Morison untuk typeface atau font yang mereka gunakan dalam surat kabar mereka yang beredar di London. Lints-Smith lantas merekrut Morison agar membuatkan mereka font yang sesuai dengan image The Times.

Morison akhirnya mendesain satu bentuk font baru, yang dinamainya Times New Roman, yang menggantikan font lama, Times Old Roman. Kini Times New Roman merupakan salah satu font yang pualing banyak digunakan.


4. Akzidenz Grotesk (Brethold Type Foundry, 1896)



Font ini mendapatkan pengaruh dari beberapa font yang lebih terkenal sebelumnya, seperti Frutiger dan Helvetica.

Font ini disukai karena punya variasi ketebalan yang sangat luas, terutama setelah dikembangkan lagi oleh Gunter Gerhard Lange di tahun 1950-an.


5. Gotham (Hoefler and Frere- Jones, 2000)



Dirilis di tahun 2000, Gotham merupakan pengembangan dari font lama, Gothic, hingga kemudian font ini berkembang dan disukai oleh para desainer grafis karena gaya modern dan simplicity-nya.

Font ini juga menjadi font "resmi" untuk berbagai poster dan komunikasi visual selama kampanye Presiden Obama tahun 2008 lo.


6. Bodoni (Giambattista Bodoni, 1790)



Bodoni mendesain font ini di abad ke-18 di kastel milik Duke Ferdinand of Bourbon-Parma, yang sangat mengagumi hasil karya tangan Bodoni sehingga mengizinkannya untuk membuat kantor percetakan sendiri di dalam kastelnya.

Tahun 1920-an, Morris Fuller Benton mendesain ulang font ini, sehingga style-nya menjadi lebih indah dan elegan lagi. Font ini digunakan dalam berbagai poster film Goodfellas, yang dibintangi oleh Robert De Niro, Ray Liotta dan Joe Pesci.


7. Didot (Firmin Didot, 1784-1811)



Didot merupakan font alternatif Bodoni yang sama populernya, yang dirilis juga kurang lebih dalam waktu yang sama.

Font ini pada dasarnya merupakan versi lebih langsing dari Bodoni sih, sekaligus mengambil sedikit inspirasi juga dari Baskerville.


8. Futura (Paul Renner, 1927)



Didesain tahun 1920-an, Futura menjadi semacam patokan (benchmarking) untuk para desainer penggemar font geometric sans.

Sampai sekarang, font ini hampir selalu digunakan dalam setiap karya komunikasi visual. Volkswagen saja nggak pernah ganti, selalu menggunakan font ini dalam logonya.


9. Gill Sans (Eric Gill, 1928)




Disebut juga sebagai English Font, Gill Sans didesain oleh Eric Gill, yang banyak bekerja dengan Edward Johnston--yang menciptakan font Johnston untuk dipakai oleh media London Underground secara eksklusif.

Gill Sans disukai oleh para desainer grafis karena variasi dan ketebalannya yang beragam.


10. Frutiger (Adrian Frutiger, 1977)



Font ini didesain oleh Adrian Frutiger untuk desain signage bandara baru Paris tahun 1977. Tadinya sih Frutiger sudah mendesain font yang dinamainya Univers, namun katanya font-nya terlalu kaku dan geometris. Kurang luwes gitu deh.

Maka kemudian, font ini pun muncul.


Nah, kamu sendiri suka pakai font yang mana sih? Dan, kenapa suka pakai font tersebut?
Share di kolom komen ya!

Tutorial Photoshop - Mengubah Foto Berwarna menjadi Hitam Putih dengan Kontras Tinggi



Seringkali, cuma beberapa saat setelah mengambil sebuah foto, kita baru nyadar, sepertinya kalo foto yang diambil akan terlihat lebih bagus kalau jadi hitam-putih.

Foto hitam putih biasanya lebih dramatis dan puitis apalagi untuk memunculkan kesan nostalgia. Biasanya memang dipake untuk keperluan jurnalistik.

Well, sekarang saya mau nunjukin cara mengubah foto berwarna menjadi hitam-putih dengan memberikan sentuhan kontras yang tinggi supaya lebih memberi tekanan yang kuat pada garis-garisnya dan mempertajam foto.

Tentunya dengan bantuan sang mighty one, Mister Potosop~!

Mulai aja ya.

Tutorial mengubah foto berwarna menjadi foto hitam putih kontras tinggi dengan Photoshop


1. Buka file foto yang akan diubah dari berwarna jadi hitam putih. 


Di sini saya nemuin satu foto (bukan saya sih yang ambil) yang kira-kira memerlukan sentuhan nostalgia di situ.



2. Di bagian menu bar, pilih [Image] - [Adjustments] – [Desaturate] 


Ini dilakukan untuk menghilangkan seluruh informasi warna. Perhatikan kalau foto berubah menjadi grayscale. Atau bisa juga pake shortcut Ctrl+Shift+U.

Jadilah fotonya begini.




3. Lalu ke menu bar lagi. Pilih [Image] - [Adjustments] - [Levels]


Perhatikan kotak dialog Levels akan muncul.
Masukkan nilai secara urut di kotak teks Input Levels : 50, 0.85 dan 200.. lalu klik OK.

Ini akan menambah nilai highlights dan midtone pada foto.




4. Lalu buat salinan layer


Caranya, lihat panel sebelah kiri bawah, ada panel layer lalu di bawahnya ada gambar yang lagi kita kerjain dengan nama layer Background.

Klik kanan layer Background, akan muncul menu lagi, pilih [Duplicate Layer].
Maka layer akan terduplikasi.




5. Dalam keadaan layer copy aktif, kita ke menu bar lagi, pilih [Image] – [Adjustments] – [Threshold]


Kotak dialog Threshold akan muncul. Geser indikator Threshold jadi 60, atau bisa juga langsung ketikin di kotak Threshold Level. Klik OK.

Perhatikan bahwa gambar akan berubah dari berwarna abu-abu menjadi benar-benar hitam putih.



Perintah threshold mengubah gambar berwarna dan grayscale menjadi hitam putih dengan tingkat kontras yang tinggi.

Pixel yang lebih terang dari nilai threshold yang ditetapkan berubah menjadi putih, sementara pixel yang lebih gelap dari nilai threshold yang ditetapkan akan berubah menjadi hitam.

Umumnya sih, nilai threshold yang lebih tinggi akan membuat gambar jadi lebih hitam atau gelap.


6. Lalu lihat lagi di panel layers


Di bawah judul panel, ubah mode blending pada seluruh layer yang threshold level nya diubah tadi jadi Overlay.



7. Terakhir, pada panel dan layer yang sama, ubah Opacity layer nya jadi 60 %




Ini dia hasil akhirnya.




Gampang yes?
Selamat mencoba!



Tutorial Montage Foto untuk Promosi dengan Photoshop



Posting kali ini bisa dibilang merupakan lanjutan bahasan foto untuk online shop yang pernah saya post di sini.

Kadang kita perlu foto di mana ada beberapa produk dalam 1 frame. Yang kaya gini biasanya dipakai untuk promosi. Bisa untuk brosur atau untuk cover timeline mungkin :)

Nah, foto kayak gini bisa kok diambil dari foto-foto yang udah ada. Nggak perlu motret lagi dari awal.

Kalau kamu memang prefer menggunakan Photoshop alih-alih aplikasi fotografi di smartphone, caranya juga gampang banget. Background juga putih aja, tanpa aneh-aneh.

Pertama, tentunya pastikan dulu bahwa semua foto ber background transparan (cara bikin membuat background transparan bisa dilihat di sini) dan siapkan beberapa foto yang akan dijadikan dalam bentuk .psd ya. Kalau dalam bentuk .jpg kan backgroundnya jadi putih, bukan transparan lagi :)

Lalu ikuti beberapa langkah berikut:

1. Buka the mighty Photoshop, terus buka file-file foto yang akan di-montage.



2. Buka file baru. Saya pakainya 1366 x 768 pixel. Ini bisa disesuaikan nanti :)




3. Drag foto pertama ke dalam frame.



4. Drag foto kedua, dan seterusnya. Draggingnya pakai move tool ya. Sesuaikan ukuran masing-masing foto juga dengan men-drag sudut transform control-nya, terus sesuaikan urutan layernya juga dengan men-drag layer pada panel layer di sisi kanan :)




5. Jadinya begini.



Nah, sebenernya ngga ada aturan baku buat nata foto beginian. Tapi saya sih suka nurut prinsip perspektif. Jadi, pastikan yang di belakang itu imagenya lebih kecil daripada yang depan. Akan keliatan dinamis dan lebih hidup :)

Kalau bisa, atur juga level gelap terangnya, makin ke belakang makin gelap.

Yang tadinya canvasnya terlalu gede, bisa dikrop. Yang kekecilan, bisa ditambah ukuran canvasnya dengan Menu > Image > Canvas Size, dan masukkan nilai yang diinginkan.

Nah, sudah selesai.

Selamat mencoba!

Adamawa Series Ambience Foto Session




Ambience foto berarti adalah foto produk (terutama produk furniture, kalo buat saya) yang dikondisikan di mana produk-produk tersebut diaplikasikan ke dalam ruang interior yang sesungguhnya.

Salah satu deskripsi pekerjaan saya di kantor lama adalah memang melakukan sesi pemotretan untuk keperluan foto ambience ini. Biasanya foto yang begini ini saya buat untuk keperluan media promosi, seperti untuk dipergunakan dalam katalog produk maupun untuk diupload ke website.

Kali ini yang saya bidik adalah satu seating set koleksi dari The Jungle milik Djawa Furni.



Konsep si desain produk sendiri adalah menyajikan furniture berbahan dasar ranting-ranting kayu jati yang disusun sedemikian rupa hingga membentuk satu furniture yang fungsional sekaligus dekoratif, maka seri ini saya namakan The Jungle… Hutan… ada banyak set yang masuk ke dalam seri The Jungle ini, Adamawa ini salah satunya.

Nama Adamawa sendiri saya ambil, kalo ndak salah, karena sudah lama sekali ini jadi udah lupa :D, dari nama sebuah hutan di kawasan Afrika. Kalo ndak salah di Nigeria, karena kemudian mengikuti judul seri besarnya yaitu The Jungle, saya namakan masing-masing set dengan nama-nama hutan di seluruh dunia.

Kebetulan di salah satu showroom Djawa Furni itu ber-backdrop hutan belantara, maka di sanalah saya menyetting photo session hari itu. Sebenernya akan lebih natural, kalo semua barang-barang ini memang saya angkut untuk saya foto di hutan yang sebenernya.

Tapi yahhh… keterbatasan SDM yang bisa membantu saya-lah kendalanya :D Jadi yaa terpaksa harus puas cuma difoto di interior saja.

Anyway, adalah biasa dalam sesi motret begini, saya bisa motret 5 hingga 6 kali shoot. Karena pertimbangan angle biasanya. Supaya lebih banyak alternatif gitu.

Nah, yang di bawah ini adalah foto-foto mentah, belum diretouch dengan Photoshop. Sedangkan yang di atas sana adalah foto yang sudah final touch, alias sudah diedit-edit dengan Photoshop. Biasanya saya mengantur level pencahayaan, menambah ketajaman warna dan poles-poles edge yang kabur biar lebih berkesan 3D.









Sampai bertemu lagi di portfolio sesi pemotretan produk selanjutnya!~